HARI PEMBEBASAN (7 AGUSTUS)

Posted in Uncategorized on Agustus 2, 2008 by bintangutara

Pada tahun 1998, di UNSYIAH dilaksanakan mimbar bebas. Yang di cetus oleh Prof.Dr. Dayan dawoed, rektor UNSYIAH pada saat itu. Seiring dengan kekesalan mahasiswa Atjeh terhadap konflik berkepanjangan di Atjeh pada saat itu, mimbar bebaspun akhirnya berubah menjadi ddemonstrasi besar-besaran meminta agar DOM, dicabut dari bumi seramoe mekkah ini. Pergolakan pergerakan mahasiswa pada era itu, juga merupakan eksistensi mahasiswa didalam mendorong lembar baru bagi Atjeh. Seiring dengan pencetusan pencabutan DOM di Atjeh, dan tumbangnya Rezim Soeharto. Tuntutan mahasiswa yang pada saat itu, didukung penuh oleh pihak rektorat, berhasil tercapai.

Pencetus mimbar bebas, serta pencabutan DOM, di Atjeh sebenarnya adalah Prof.Dr.Dayan dawoed. Beliau merupakan rektor UNSYIAH yang paling mempunyai orientasi politis bagi kesejahteraan rakyat. Hal ini di indikasikan dengan gagasan pencabutan DOM, di atjeh. Dan sampai sekarangpun hanya beliau satu-satunya rektor UNSYIAH, yang berani mencetuskan gagasan untuk membela rakyat Atjeh, sekaligus melawan sikap pemerintah RI yang otoritarian terhadap rakyat Atjeh. Namun sangat disayangkan, dimasa sekarang rakyat Atjeh seakan lupa akan hari bersejarah pencabutan DOM, pada tanggal 7 AGUSTUS tersebut.

Fakta sejarah inilah yang akhirnya mengilhami MPK (Mahasiswa Peduli Keadilan), untuk memperingati setiap tanggal 7 agustus, sebagai hari pembebasan. Dengan tuntutan agar setiap tanggal 7 agustus, dijadikan hari libur nasional Atjeh. Dalam rangka memperingati Hari Pembebasan Atjeh.

Iklan

TULISAN UNTUK TEGAR

Posted in atjeh on Mei 20, 2008 by bintangutara

Ada yang membungkamku hari ini.

Aku tetap, bersuara.

 

Hari ini datang ancaman seperti kemarin.

Aku tetap, bersuara.

 

Mereka menghina ungkapanku.

Aku tetap, bersuara.

 

Tuhan mencabut halus nyawaku.

Aku tetap yakin, jiwaku tetap bersuara.

 

 

Terik mentari mulai menghanguskan kulitku.

Aku tetap, tegak berdiri.

 

Badai menyapu berulang lemahkan kakiku.

Aku tetap, tegak berdiri.

 

Pukulan telak menjejal tubuhku.

Aku tetap yakin, semangatku tetap tegak berdiri.

 

 

Karena waktu tidak punya waktu, untuk menunggu.

Karena jiwa butuh jiwa, untuk tabah.

 

Agar raga dewasakan raga, untuk terbiasa.

Agar dunia yakinkan dunia, untuk bersuara.

 

 

Manusia biasa yang berharap dapat berbuat lebih, demi orang banyak……

Hamba sahaya yang melawan arus, demi keadilan……

Umat malam yang mencoba, menepis pagi……

Berharap berani mati, demi……

Kepuasan hati…..

 

BINTANG UTARA

   19 APRIL 2008

 

ATAP INDEPENDEN

Posted in atjeh on Mei 6, 2008 by bintangutara

Aku seorang manusia yang coba berdiri ditengah badai pergolakan, kemudian aku terhempas jauh dari peredaran. Dan mengharuskan aku menjadi penonton, hanya beriak untuk pihak berkuasa yang penuh kemunafikan. Harus rela melihat dan membiarkan wajah-wajah suci yang tulus tertindas. Aku bukan tidak ingin semua ini berakhir, hanya saja kaki ini belum kuasa untuk membangun kuda-kuda kokoh agar tegak berdiri, apalagi melawan sistem otoriter dan menolong kertas putih yang ternoda.

Orientasi rapuh yang kubangun dengan penuh kesadaran selalu runtuh dan hancur oleh berbagai kepentingan busuk para pemilik kepentingan. Kemudian secara terang-terangan aku dipangkas dari peredaran pergaulan, dan dihimpit dengan sadis ditengah ungkapan fasis. Ditengah kerancuan menghadapi berbagai persoalan , aku mulai melihat atap rindang dengan tiang-tiang kokohnya meski sederhana. Disana berdiri kebijaksanaan dan garis tengah yang tidak pernah memihak, untuk kemudian membaur dan menjadi penyatu bagi sisi hitam dan putih.

Serta merta panggilan hati menggugah untuk menetap dan mengabdi dibawah atap ini, seraya memperluas langkah dan mengajak mereka yang sebelumnya tidak berfikir untuk berfikir memberanikan mereka yang sebelumnya hanya mampu pasrah diantara kepentingan-kepentingan para penindas. Maka dibawah atap ini aku merasa mendapatkan imajinasi dan misi yang selama ini selalu disalahgunakan oleh beberapa kaum.

Langkah awal yang kulakukan adalah mencari pemahaman untuk kemudian kusaring dengan filter sesuai disiplin ilmu dan wawasanku, menentukan titik permasalahan dan solusi yang tepat sebelum akhirnya melakukan langkah-langkah penyelesaian. Untuk kemudian kembali memberikan pemahaman itu kepada mereka yang serupa dengan aku yang dulu, semua itu kulakukan bukan atas dasar popularitas atau materi. Semua ini kulakukan agar mereka mengerti dan faham sebatas mana posisi, hak, dan kewajiban mereka dalam sebuah siklus institusi.

Namun bukan berarti aku akan berdiam dibawah atap ini untuk selamanya. Aku akan pergi dan menceri atap lain yang serupa dengan atap yang sekarang, bilamana disuatu dekade atap ini akan rubuh atau berganti rapuh sebagai tempat dimana idealisme diperjual belikan dan batas-batas dari pemahaman tadi menjadi buram oleh lumpur kepentingan personal atau sekecap kekuasaan non kolektif.

Bintang Utara

IKRAR KAMI

Posted in atjeh on Mei 6, 2008 by bintangutara

Hari ini mahasiswa harus diam dan berdiri sebagai pecundang tak beraturan yang selalu harus menurut terhadap semua peraturan yang ditetapkan, tanpa mampu meninjau apakah semua itu layak untuk dipatuhi. Hari ini mahasiswa hanya menjadi kenangan indah dipelupuk memori yang seakan enggan untuk dipahami, bukan sebagai sebuah suara yang selalu menjadi angin segar bagi rakyat yang jelas-jelas sangat membutuhkan bantuan dalam bertindak untuk sebuah pemikiran baru.

Hari ini mahasiwa sudah terlalu lupa dengan azas dasar mahasiswa yang selalu memegang teguh TRI DARMA perguruan tinggi. Mahasiswa sekarang hanya gambaran menyedihkan dari rakyat kita yang semakin terjepit dalam kekangan KAPITALIS yang munafik yang selalu memaksakan kehendak tanpa mau berkorban untuk sesuatu yang lebih berarti.

Setiap hari ada jiwa-jiwa peduli yang tersingkir oleh kemunafikan dan sikap APATIS yang tumbuh subur hingga berakar kuat ditengah hutan ketidak pedulian, meski masih terlalu dini namun sudah saatnya mata para mahasiswa diisi dengan beragam kepedulian tiada pamrih. Mahasiswa sekarang hanya menjadi kedok dari bodohnya pelayanan fasilitas pendidikan negeri ini juga sebagai tameng pelindung bagi kebobrokan yang sudah seharusnya dibongkar tuntas.

Jari jari kotor pihak penguasa coba menyingkirkan FILSAFAH pemahaman yang selama ini dipegang teguh oleh sebagian orang, jiwa kami disiksa untuk mendengar kepedihan dari bibir saudara kami yang tidak mampu membiayai kuliahnya. Kami diancam oleh keputusan sepihak radikal yang jelas jelas memperkosa keutuhan demokrasi dalam bersuara. Kami hanya ingin pendidikan dinegeri ini murah karena memang sudah sepatutnya, ingatlah tuan penguasa mahasiswa pernah menumbangkan rezim penguasa negeri ini. Jangan sampai kami memberi sebuah konsep dan terkesan menguliahi anda, ikrar kami………

Bila anda tidak bersedia bersikap demokratis, gerakan kami anda kekang dengan alasan yang tidak masuk akal, dan suara kami anda bungkam maka kami menawarkan sebuah perjanjian kepada anda, PEMBERONTAKAN.

Sudah saatnya bendera kebenaran dan keteraturan terhadap keadilan berkibar dipuncak tanah ibu pertiwi, ini adalah saat dimana mati menjadi taawaran paling mulia untuk memperjuangkan semua ini. Konsep ini akan menjadi bagian paling menyedihkan bagi konsep demokrasi negeri ini dimana bendera negara berkibar dengan gagah tanpa disusupi oleh kepentingan perorangan atau kelompok tertentu, dan idealisme kembali seperti sediakala dimana kebenaran akan tetap dijunjung tinggi tanpa ada bantahan terhadapnya.

Bintang Utara

SERANGGA YANG MENCINTA

Posted in atjeh on Mei 6, 2008 by bintangutara

Entah dimana dan dimasa apa aku terlahir untuk tapaki keputus asaan terlalu dalam aku terluka untuk sebuah keyakinan, tertunduk lesu diantara berbagai kemunafikan yang kemudian menaklukkan firasat busuk tak beraturan. Seperti sebuah keyakinan yang tidak akan pudar diterpa badai ketidakberdayaan untuk kemudian terjual kepada perih mendera, tertawan oleh langkah-langkah berat yang meyakini bahwa hidaup adalah kesalahan fatal yang harus segera diakhiri tanpa penderitaan.

Langkah-langkah ini tidak pernah berfikir bahwa yang pernah terjadi adalah sebuah berkah dari kedewasaan yang menjadikan seorang manusia seperti belati yang akan terus tajam selama terawat dan terasah dengan baik. Penjelasan ini akan menjadi tidak berarti sama sekali tanpa perhatian dan keyakinan diri merubah pola fikir palsu hasil tempaan penderitaan yang tercipta tanpa kepastiaan. Kemudian aku akan diam untuk pasrah menyaksikan semua ini berulang tanpa henti.

Aku pernah terpenjara oleh kemiskinan kepercayaanku terhadap keadilan dan konspirasi-konspirasi yang bermain dibelakangnya, mungkin akan terdengar seperti sebuah pembelaan bila aku terusap oleh kasih yang kemudian membuatku terpuruk kedalam palung buruk bernama patah hati, aku jatuh kedalam palung tinggi nan terjal yang disetiap sisinya berukir putus asa dan kecewa. Berulang kali aku coba bertahan dan terus mendaki dari tiap sisi palung, tapi mungkin tuhan masih enggan membiarkan aku untuk melupakannya sehingga ditiap terjalnya tebing yang kudaki terus mengingatkan kau akan dirinya.

Sehingga wajar bagiku untuk berfikir bahwa sangat mustahil melupakan dirinya pemikiran paling bodoh yang pernah kulakukan, tidak berarti apapun didalam tatanan hidupku kedepan. Aku seharusnya sadar dari awal tentang hal ini tapi semua seakan terus meyakinkan aku bahwa dia adalah darah yang tertumpah atau air mata yang menetes untuk penuhi keinginan takdir terhadap hidup yang kujalani. Dan hanya membuang waktu, tenaga, dan siasat keberadaan yang seharusnya kupahami sejak awal.

Selanjutnya aku akan terus berusaha untuk mendaki dan menapaki jejak waktu yang masih tersisa dengan indah diakhir keberadaanku dipalung ini, agar kekal aku bebas dari berbagai kemunafikan yang begitu menjanjikan seperti sebelumnya. Hanya saja kali ini aku akan lebih kebal terhadap semua kedaan yang berbau kasih saying dan cinta. Aku akan terus sendiri menapaki hari, sendiri melawan waktu, dan akan tetap sendiri menangis untuk bosan yang begitu mengilhamiku agar lebih tabah menempati waktu.

Semoga semua ini akan membuat waktu berlalu dengan sedikit perubahan terhadap takdirku, harapan yang selama ini membuatku berfikir agar diam diantara bisu. Memberi pencerahan padaku agar menyimak dengan pasti apa yang akan terjadi kelak. Akan membuatku terus bertahan diantara gelombang hidup yang tidak akan pernah berhenti, agar kemudian menjadi faedah bagi setiap langkah yang kulakukan.

Hari ini aku menjadi manusia dengan semangat dan keyakinan baru yang tidak pernah tersapu ketidak berdayaan, malam berganti dan pagi masih belum usai menelaah arti alami. Enam puluh purnama berlalu dan aku masih sendiri menapaki telusuran jiwa seakan hati ini begitu betah dengan sepi yang tidak pernah menahan apapun sebagai perasaan. Disaat hati ini mulai lupa dengan semua cinta aku bertemu dengan seorang bidadari yang dua puluh empat purnama lebih tua dariku, kehadirannya seakan mengoyak tabir prahara yang selama in kupelihara dengan berbagai kata dan sanggahan.

Dia terlalu agung bagiku mendekap keindahan sebagai bagian dari jati diri yang tidak akan pernah terusik oleh jejak langkah dan tangan yang menjamah, selalu hadir senyumnya mendekap firasat cinta yang tidak akan sirna oleh berbagai ideologi-ideologi kiri yang terlanjur mendarah didalam diriku menjadikan dirinya begitu hangat bila kudekap dan terlalu asing bila tak kutatap mata dan cintanya.

Aku ingin dia hadir sebagai seorang teman hakiki yang hanya akan terpisah oleh mati, aku ingin dia terasing hanya untukku tanpa perduli akan melanggar hal-hal yang kusemai sebelum bertemu dengannya. Jagat raya kini akan bertanya padaku tentang keinginan yang sedang kualami, biar mentari yang akan menjawab jawabku. Aku ingin berlari agar bisa membawanya kelangit dimana mati tak pernah memanggil lagi, ingin berbuat lebih untuk dia yang tidak akan pernah bisa terganti oleh mati dan anarki

Bintang Utara

YANG DIAM

Posted in atjeh on Mei 6, 2008 by bintangutara

Yang diam tak mampu berkata, hanya symbol kecil keadilan yang ditindas. Hak bicara hanya sebatas idaman masa damai yang sepi. Saat semua itu terjadi apa yang harus dilakukan umat tuhan yang seharusnya berdiri dengan tangan terbuka, membiarkan kenangan kebebasan bersuara tenggelam ditelan damai yang penuh dengan kepalsuan belaka. Saatnya untuk bangkit dari keterpurukan yang penuh alasan permintaan maaf dari kaum tertindas yang memang tak bersalah, rangkaian matahari punah ditelan keangkuhan hitam yang gelap.

Yang diam bersama anugrah tersusupi kebrutalan idealisme congkak atas nama bersama, termakan hasutan busuk para penguasa, rekapitulasi tentang bagaimana semua ini terjadi akan terasa lebih dekat dengan apa yang kita alami sekarang. Semua terjadi begitu saja tanpa ada satu kuasapun dapat menimbang, ini adalah sebuah jeratan emosi putus asa dari idealisme yang terjual.

Walau begitu akan selalu ada jiwa diam yang merasa berkorban itu sangat penting untuk menjadi seperti apa yang dikehendaki, Yang diam akan kembali membawa tombak takdir ditangannya yang terkepal bisu. Hanya dihadiahi kepada para penguasa lalim yang tak pernah memikirkan kepentingan bersama, atau penataan kobaran api semangat yang tak pernah terbujuk rayuan untuk berdamai dengan penguasa didepan orang banyak, tapi akan memohon ampun dibelakang mereka.

Bintang Utara

BISIKAN UNTUKMU PAGI INI

Posted in atjeh on Mei 6, 2008 by bintangutara

Wahai bidadari bersama siapa kau lewati, pagi ini…

Siapa yang menemanimu berlari, siang nanti…

Adakah masih tersisa, tempat untukku dihatimu saat petang datang…

Wahai terang ungkapan apa yang akan kau terjemahkan, pagi ini…

Prosa seperti apa yang akan terukir, siang nanti…

Mewarnai hari, dan menghiasi ucapanmu saat petang datang…

Kelak aku berharap waktu akan terukir terbalik, pagi ini…

Kembali saat kau dan aku masih sepi, siang nanti

Temani aku tersesat, ditengah belantara raya saat petang datang…

Untuk setiap cerita indah yang pernah kita lalui bersama, pagi ini…

Bersama luapkan romantika gelisah perih, siang nanti

Dan tentunya, demi mati yang enggan menunggu petang datang…

Berpijak diatas apakah kau, pagi ini…

Melayang jauhkah kau, siang nanti…

Lalu singgah perlahan, dimanakah kau saat petang datang…

Sekedar mengingatkanmu aku masih disini, pagi ini…

Melawan tabu dan gelisah, siang nanti…

Berhenti karena lelah, dipojok hidup saat petang datang…

Untuk semua mimpiku padamu, pagi ini…

Aku mampu lewati gelisah, siang nanti…

Juga siap mati, ribuan kali untukmu saat petang datang…

Saat esok lusa dan kapanpun aku akan siap menerima perkataan getir, yang ditorehkan takdir padaku. Menelan pahit aroma suci ketabahan, sadar dan paham mewarnai pikiran warasku. Bahwa aku akan mati tersisih dari kehidupan bila terus bertahan, juga siap menerima ucapan cemooh dari dunia bila berkata.

Hanya untukmu air mata ini tertumpah, hanya untukmu darah ini mengalir, dan hanya untukmu raga ini siap terberai. Sikap netral terbuang jauh dari pendirianku, hanya untukmu, aturan rimba kutanggalkan hanya untukmu, entah kapan semua berakhir.

Derita terindah karenamu.

27/01/08

P.A

Bintang Utara