Pada tahun 1998, di UNSYIAH dilaksanakan mimbar bebas. Yang di cetus oleh Prof.Dr. Dayan dawoed, rektor UNSYIAH pada saat itu. Seiring dengan kekesalan mahasiswa Atjeh terhadap konflik berkepanjangan di Atjeh pada saat itu, mimbar bebaspun akhirnya berubah menjadi ddemonstrasi besar-besaran meminta agar DOM, dicabut dari bumi seramoe mekkah ini. Pergolakan pergerakan mahasiswa pada era itu, juga merupakan eksistensi mahasiswa didalam mendorong lembar baru bagi Atjeh. Seiring dengan pencetusan pencabutan DOM di Atjeh, dan tumbangnya Rezim Soeharto. Tuntutan mahasiswa yang pada saat itu, didukung penuh oleh pihak rektorat, berhasil tercapai.
Pencetus mimbar bebas, serta pencabutan DOM, di Atjeh sebenarnya adalah Prof.Dr.Dayan dawoed. Beliau merupakan rektor UNSYIAH yang paling mempunyai orientasi politis bagi kesejahteraan rakyat. Hal ini di indikasikan dengan gagasan pencabutan DOM, di atjeh. Dan sampai sekarangpun hanya beliau satu-satunya rektor UNSYIAH, yang berani mencetuskan gagasan untuk membela rakyat Atjeh, sekaligus melawan sikap pemerintah RI yang otoritarian terhadap rakyat Atjeh. Namun sangat disayangkan, dimasa sekarang rakyat Atjeh seakan lupa akan hari bersejarah pencabutan DOM, pada tanggal 7 AGUSTUS tersebut.
Fakta sejarah inilah yang akhirnya mengilhami MPK (Mahasiswa Peduli Keadilan), untuk memperingati setiap tanggal 7 agustus, sebagai hari pembebasan. Dengan tuntutan agar setiap tanggal 7 agustus, dijadikan hari libur nasional Atjeh. Dalam rangka memperingati Hari Pembebasan Atjeh.